صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
وهذا الصراط المستقيم هو: {صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين. {غَيْرِ} صراط {الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ} الذين عرفوا الحق وتركوه كاليهود ونحوهم. وغير صراط {الضَّالِّينَ} الذين تركوا الحق على جهل وضلال، كالنصارى ونحوهم.
Maksud dari Sirotul Mustaqim adalah “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur dengan keimanannnya, syuhada, dan orang-orang saleh, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai Allah.
Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai Allah adalah mereka yang mengetahui kebenaran kemudian tidak mengamalkannya. Tipologi manusia ini seperti orang-orang Yahudi dan siapa saja yang meniru langkah mereka dari kalangan kaum muslimin. Bukan juga jalannya orang-orang yang sesat yaitu mereka yang melakukan kebaikan tanpa ilmu. Tipologi manusia ini adalah seperti orang-orang Kristen.
Pelajaran yang diambil dari QS. Al-Fatihah ayat 7:
- Jalan yang lurus atau Islam adalah sebuah nikmat, sehingga kewajiban kita sebagai seorang muslim dan muslimah mensyukuri nikmat keislaman tersebut. Yaitu dengan cara mengamalkan ajaran-ajaran Islam tersebut.
- Tingkat kemuliaan manusia bukan disebabkan gelar akademik, karir, dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tetapi kemuliaan sebenarnya ada pada tingkatan seseorang yang menjadi Nabi, Shiddiqin (orang-orang yang jujur dengan keimanannya), Syuhada (mati syahid), dan orang-orang saleh.
- Menjadi Nabi adalah sudah tidak mungkin lagi bagi kita disebabkan telah ditutup dengan Nabi Muhammad. Yang paling memungkinkan adalah untuk meraih tingkatan Shiddiqin (orang-orang yang jujur dengan keimanannya), Syuhada (mati syahid), dan orang-orang saleh.
- Orang-orang Yahudi adalah bangsa yang dimurkai Allah disebabkan mereka tidak mengamalkan ilmunya. Bisa jadi, di antara kaum muslimin ada yang berperilaku seperti Yahudi yaitu tidak mengamalkan ilmunya.
- Orang-orang Kristen adalah bangsa yang sesat, disebabkan mereka beramal tapi tanpa didasari dengan ilmu. Bisa jadi, di antara kaum muslimin ada yang berperilaku seperti orang Kristen yaitu beramal tanpa ilmu.
- Kaum muslimin adalah bangsa dan umat pertengahan antara Yahudi dan Kristen. Yaitu mereka mengamalkan apa yang mereka ilmui.
- Pentingnya berilmu dan beramal. Ilmu itu laksana lentera dalam kegelapan, ia memberi petunjuk kepada pemiliknya untuk meniti jalan yang lurus.
- Hendaknya semangat menuntut ilmu diiringi dengan semangat mengamalkan. Karena menumpuk ilmu tanpa amal tiada berguna di sisi Allah.
Referensi: Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannaan Karya Abdurrahman al-Sa’di (w. 1376 H)
Dr. Ade Wahidin, Lc., M.Pd.I

