Tafsir QS al-Fatihah Ayat 3

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Surat al-Fatihah ayat 3 ini sudah dijelaskan pada ayat yang pertama yaitu bismillahirrahmanirrahim. Disebutkannya ar-Rahman ar-Rahim secara terpisah pada ayat yang ketiga ini menunjukkan urgensi dan kedudukan kasih sayang Allah. Dalam al-Qur`an dan hadis, kasih sayang Allah digambarkan dengan diksi, redaksi, dan narasi ‘luas’ dan ‘mendahului’.

Pertama: Kasih sayang Allah itu lebih luas.

Allah berfirman dalam Qur`an surat al-A’rof  (7) ayat 156:

قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Allah berfirman, “Siksaan-Ku menimpa siapa saja yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meluasi segala sesuatu.”

Dalam ayat tersebut redaksi yang digunakan adalah wasi’at yang artinya luas atau mencakupi.

Allah berfirman dalam al-Qur`an surat Ghofir (40) ayat 7

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا

“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meluasi segala sesuatu.”

Dalam ayat tersebut redaksi yang digunakan adalah wasi’ta yang artinya Engkau meluaskan.

Kedua: Kasih sayang Allah itu mendahului murka-Nya.

Dalam riwayat hadis Bukhari No. 7422 disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي.

Dari Abu Hurairah semoga Alloh meridhoinya, dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wasallam Ia bersabda, “Sesungguhnya ketika Allah menetapkan takdir untuk seluruh makhluk-Nya maka Allah menulis di sisi-Nya di atas singgasana-Nya seraya berfirman, Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”

Dalam hadis tersebut yang digunakan adalah kata sabaqat  yang artinya mendahului.

Demikian pula dalam hadis riwayat Muslim No. 7146 disebutkan, yang secara redaksional mirip dengan hadis sebelumnya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سَبَقَتْ رَحْمَتِى غَضَبِى ».

Dari Abu Hurairah semoga Alloh meridhoinya, dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wasallam Ia bersabda, “Allah berfirman, Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”

Dalam hadis tersebut yang digunakan adalah kata yang sama dengan hadis sebelumnya yaitu sabaqat  yang artinya mendahului.

Pelajaran dari Tafsir QS al-Fatihah Ayat 3:

  1. Kasih sayang Allah itu luas tercermin dari banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Baik nikmat internal maupun eksternal.
  2. Rahmat-Nya yang Internal yang ada pada diri kita sungguh teramat banyak, mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, kaki bisa berjalan, tangan bisa berpegang, fisik yang sehat, jiwa yang sehat adalah nikmat yang Allah berikan sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita sehingga bisa menjalani kehidupan ini.
  3. Rahmat-Nya yang internal yang paling terbesar bagi kita adalah Islam dan iman yang dibangun di atas al-Qur`an dan Hadis dengan pemahaman generasi terdahulu dari kalangan Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’uttabi’in. Oleh karena itu, kita harus merasa mulia (izzah), happy (Senang) dengan keislaman dan keimanan kita. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (58)

  1. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
  2. Rahmat-Nya yang eksternal adalah Allah memberikan fasilitas yang secara asasi kita butuhkan. Seperti udara yang segar, air bersih, sinar matahari, air hujan, dan lain sebagainya. Maka, fasilitas-fasilitas itu hendaknya kita gunakan untuk mendukung keberadaan dan keistiqomahan kita dalam berislam dan beriman.
  3. Firman-Nya yang berbunyi bahwa Rahmat-Nya meluasi atau lebih luas dari segala sesuatu dan sabda Nabi-Nya bahwa Rahmat-Nya mendahului murka-Nya hendaknya kita jadikan sebagai rumus kehidupan, terutama di saat-saat genting, galau, dan musibah yang menimpa kita. Kita hibur diri kita ketika tertimpa musibah dengan kata-kata “sejatinya rahmat Allah lebih luas ” atau ketika kita terpuruk dalam kemaksiatan sehingga terkadang membuat kita putus asa, maka kita bisikkan dalam diri kita “kasih sayang-Nya amat luas bahkan lebih mendahului murka-Nya” agar kita segera move on hingga bisa melakukan ketaatan.

Allah berfirman:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

  1. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Share:

More Posts

Tafsir QS Al Fatihah ayat 7

 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ وهذا الصراط المستقيم هو: {صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين. {غَيْرِ} صراط {الْمَغْضُوبِ

Tafsir QS al-Fatihah Ayat 6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  Adapun firman Allah “Ihdinash Shirathol Mustaqim” maknanya adalah tunjukilah dan bimbimlah kami. Berikanlah kami taufiq (pemastian) untuk menempuh jalan yang lurus. Sirotul

Tafsir QS al-Fatihah Ayat 5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ Firman-Nya Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in yaitu kami sebagai hamba-Mu mengkhususkan ibadah dan memohon pertolongan ini hanya kepada-Mu. Didahulukannya ibadah atas

Tafsir QS al-Fatihah Ayat 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ Maliki Yaumiddin (Raja/Pemilik Hari Pembalasan), kata al-Malik artinya Dzat yang memiliki sifat kepemilikan dan kerajaan yang secara otomatis memiliki otoritas untuk memerintah

Kirim Pesan