A. Keutamaan Mengikhlaskan Niat
Niat yang ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah, di antara dalilnya adalah:
- Surat al-Bayyinah ayat lima:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)
“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya seraya menjalankan ajaran yang hanif/bertauhid…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
- Hadits Umar bin Khattab
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
B. Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah. Berikut ini dalil-dalil keuatamaannya:
- Derajatnya diangkat baik di dunia dan akhirat. Allah berfirman dalam surat al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
- Menuntut ilmu tanda kebaikan seseorang. Sebagaimana hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
C. Dzikir Setelah Bangun Tidur
- Bacaan pertama yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah,
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
“Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.” (HR. Bukhari)
- Bacaan kedua, jika bangun tidur di malam hari, maka dianjurkan membaca surat Ali Imran 190-200.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila bangun dari tidur malam, beliau mengusap (bekas) tidur di wajah beliau dengan tangannya, kemudian beliau melihat ke langit, dan membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali ‘Imron,
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ
Dan di dalam riwayat lain, Imam Muslim menyebutkan: “Bahwa Ibnu Abbas pernah tidur di dekat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bangun, bersiwak dan berwudhu. Dan beliau membaca:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ
Beliau membaca ayat-ayat tersebut (yakni sepuluh ayat terakhir dr surat Ali Imron) hingga akhir surat (Ali ‘Imron).” (HR. Muslim)
D. Berwudhu
Banyak keutamaan bagi siapa saja yang berwudhu dan melakukannya secara istiqamah. Berikut ini di antaranya.
- Dijaga Malaikat bagi siapa saja yang berwudhu sebelum tidur.
مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih).
- Hadis tentang Bilal yang suara sendalnya terdengar di surga.
Dari Abu Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam di pagi hari memanggil Bilal lalu berkata,
يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى
“Wahai Bilal, kenapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sendalmu di hadapanku. Aku memasuki surga di malam hari dan aku dengar suara sendalmu di hadapanku.”
Bilal menjawab,
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ
“Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua raka’at sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua raka’at setelah itu.” (HR. Tirmidzi)
E. Dzikir dan Doa Berwudhu
- Sebelum Berwudhu hendaknya membaca basmalah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ
“Tidak ada (tidak sah) wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah ketika berwudhu.” (HR. Ibnu Majah)
- Membaca doa setelah wudhu
Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.] kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.” (HR. Muslim)
Di dalam riwayat At-Tirmidzi ada tambahan doa,
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ
“Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri.” (HR. Tirmidzi)
F. Bersiwak
- Bersiwak dapat meraih keridhoan Allah.
Hal ini sebagaimana sabda Rasululloh yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh dari jalur Abu Bakar ash-Shiddiq Rodiallohu ‘anhu:
السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
“Siwak dapat membersihkan bau mulut dan mendatangkan keridhoan Alloh.”
- Bersiwah hukumnya sunnah kapan saja dan ditekankan pada waktu-waktu tertentu, seperti sebelum shalat.
Hal ini sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori Rohimahulloh dari jalur Abu Huroiroh Rodiallohu ‘anhu, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ
“Andaikata aku tidak khawatir memberatkan kaumku atau manusia, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak setiap kali akan shalat.”
G. Berdoa memakai pakaian
- Pakaian Lama. Sebagaimana hadits Muadzb bin Anas al-Anshari berikut:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Alloh Subhanahu Wa Ta’ala yang telah mengenakan dan menganugerahkan pakaian ini kepadaku, tanpa ada daya dan kekuatan dariku.” (HR. Abu Dawud)
- Pakaian Baru. Sebagaimana hadits Abu Sa’id al-Khudri berikut:
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
“Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Engkau yang telah memberiku pakaian. Aku mohon kepada-Mu akan kebaikannya berikut kebaikan sesuatu yang dibuat untuknya. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan sesuatu yang dibuat untuknya.” (HR. Abu Dawud)
H. Menuju Masjid
- Berdoa Ketika Keluar Rumah.
Disunnahkan bagi kita untuk membaca doa keluar rumah baik untuk keperluan sholat maupun lainnya. Adapun doanya adalah sebagai berikut:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
Doa ini merupakan Hadis sohih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Rohimahulloh.
- Di tengah perjalanan menuju masjid.
Berkaitan dengan hal ini, Imam Ibnu Khuzaimah Rohimahulloh meriwayatkan sebuah hadis Nabi Sholloulohu ‘alaihi wa sallam, bahwa Ibnu ‘Abbas Rodiallohu ‘anhuma berkata:
“Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah radhiyallahu ‘anha. Terdengarlah suara mu’adzdzin mengumandangkan adzan. Nabi Sholloulohu ‘alaihi wa sallam pun keluar untuk melaksanakan sholat, dan ketika itu beliau berdo’a:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي لِسَانِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا، وَاجْعَلْ خَلْفِي نُورًا، وَمِنْ أَمَامِي نُورًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا، وَمِنْ تَحْتِي نُورًا، اللَّهُمَّ أَعْظِمْ لِي نُورًا.
“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, jadikanlah cahaya dalam penglihatanku, jadikanlah cahaya di belakangku, jadikanlah cahaya di depanku, jadikanlah cahaya di atasku, jadikanlah cahaya di bawahku dan besarkanlah cayaha untukku, ya Allah.”
- Di Masjid
Ketika kita sampai di masjid dan berada di dalamnya, maka ada juga adab-adab yang perlu ditunaikan, di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama: Masuk ke Masjid dengan Kaki Kanan dan Membaca Doa.
Ketika seseorang sampai ke masjid, maka hendaknya ia masuk dengan kaki kanan dengan membaca doa sebagai berikut:
أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Alloh Yanag Maha Agung, dengan Wajah-Nya Yang Mulia, dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari godaan setan yang terkutuk.” (HR. Abu Dawud)
Kedua: Shalat dua rakaat tahiyyatul masjid.
Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam bersabda, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam bukhori Rohimahulloh, dari jalur Abu Qotadah as-Salami Rodiallohu ‘anhu:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِس
“Jika seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.”
Ketiga: Keluar masjid dengan kaki kiri dan membaca doa.
Ketika kita keluar masjid, hendaknya kita mendahulukan kaki kiri seraya membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Sholloulohu ‘alaihi wa sallam, lalu membaca doa-doa berikut:
اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Ya Alloh Lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk.” (HR. Ibnu Majah)
Kemudian membaca doa berikut:
رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ
Yang aritnya, “Ya Alloh Tuhanku ampunilah dosa-dosaku, dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.” (HR. Tirmidzi)
I. Sholat Tahajud
Shalat tahajjud pada dasarnya dilaksanakan setelah shalat Isya sampai menjelang Subuh, walaupun yang paling utama adalah di waktu sahur atau sepertiga malam terakhir. Banyak sekali keutamaan shalat tahajjud atau shalat malam, berikut ini beberapa di antaranya:
Pertama: Shalat tahajud adalah salah satu sifat orang bertakwa dan calon penghuni surga.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).
Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”
Kedua: Shalat tahajud adalah sebaik-baik shalat sunnah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
An Nawawi –rahimahullah– mengatakan, “Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Ini juga adalah dalil bagi ulama Syafi’iyah (yang satu madzhab dengan kami) di antaranya Abu Ishaq Al Maruzi dan yang sepaham dengannya, bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib. Sebagian ulama Syafi’iyah yang lain berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib lebih afdhol (lebih utama) dari shalat malam karena kemiripannya dengan shalat wajib. Namun pendapat pertama tetap lebih kuat dan sesuai dengan hadits. Wallohu a’lam.
Ketiga: Shalat tahajud adalah kebiasaan orang sholih.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat malam adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ” (HR. Tirmidzi)
J. Sholat Witir
Sesungguhnya shalat Witir memiliki keutamaan yang besar dan memiliki urgensi yang cukup besar. Dalil yang paling kuat untuk hal itu adalah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, baik ketika sedang berada di rumah ataupun dalam bepergian. Inilah dalil yang cukup jelas mengenai betapa pentingnya shalat Witir tersebut. Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah:
Pertama: Dari Abu Bashrah al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً، وَهِيَ الْوِتْرُ، فَصَلُّوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ.
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kalian tambahan shalat, yaitu shalat Witir, maka shalat Witirlah kalian antara waktu shalat ‘Isya’ hingga shalat Shubuh.’” (HR. Ahmad).
Kedua: Hendaknya shalat sunnah malam ditutup dengan shalat witir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
اِجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.
“Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan shalat Witir.” (HR. Bukhari)
Ketiga: Allah menyukai yang witir. Dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ، فَأَوْتِرُوْا يَاأَهْلَ الْقُرْآنِ.
“Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai orang-orang yang melakukan shalat Witir, maka shalat Witirlah, wahai para ahli al-Qur-an.” (HR. Abu Dawud)

